Sabtu, 23 Oktober 2021

Nabi dan Misteri 12 Lelaki Bertopeng

MALAM gelap gulita. Udara padang pasir di antara bukit Aqabah dan Madinah cukup dingin. Sementara itu 12 orang pria mengendap-endap di sebuah bukit. Mereka mendekati unta yang sedang ditunggangi seseorang. Penunggang unta itu tidak sendirian. Di depan ada pemegang tali kekang. Seorang lagi di belakang menggiring unta.

Secepat kilat kedua belas lelaki yang mengenakan topeng itu berhamburan, menyerang.. Mereka mengganggu unta  agar lari dengan cepat. Sejumlah barang bawaan pun terjatuh. Penunggangnya masih bisa mengendalikan diri dan tetap tenang. Sementara dua kawan seperjalanannya sibuk menghadang serangan dengan tongkat, dan memukulkannya ke hewan tunggangan para penyerang.

Menghadapi perlawanan yang gigih seperti itu, akhirnya para penyerang pun lari menuruni bukit dan  bergabung dengan orang banyak di lembah. Sepertinya mereka khawatir, jika terus berada di lokasi itu  lama kelamaan penyamarannya akan terbongkar.

Penunggang unta itu tiada lain Nabi Muhammad SAW. Pemegang tali kekang adalah Hudzaifah al-Yaman, dan yang menggiring di belakang Ammar bin Yasir. Malam itu rombongan Nabi pulang dari daerah Tabuk. Sebelum melewati bukit Aqabah, Nabi memerintahkan anggota rombongan berjalan di lembah. Sedangkan beliau beserta Ammar dan Hudzaifah meniki bukit.

Bisikan Nabi

Ketika sudah keluar dari kawasan bukit Aqabah, Nabi bertanya kepada Hudzaifah perihal kejadian tersebut.

“Hudzaifah, apakah kamu mengenal salah seorang dari komplotan itu?”

“Saya tidak mengenalnya, wahai Rasulullah. Mereka bertopeng dan malam begitu gelap.”

“Apakah kamu tahu perihal mereka dan apa yang akan dilakukannya?”

“Tidak, demi Allah saya tidak tahu, wahai Rasulullah.”

“Sesungguhnya mereka berencana buruk terhadapku. Mendesakku ke atas bukit dan melemparkanku ke bawah. Sungguh, Allah telah memberi kabar kepadaku tentang siapa saja mereka dan tindakan apa yang akan mereka lakukan kepadaku. Kuberi tahu kamu siapa saja mereka.”

Lalu Nabi membisikkan nama-nama itu satu per satu. “Tapi jangan bilang kepada siapa pun,” pesan Rasulullah.

Nabi pun menceritakan insiden itu keesokan harinya ketika orang-orang berdatangan. Nabi menceritakan perbuatan kaum munafik yang akan mencelakakannya. Muncul usulan agar semua kabilah dan pemimpinnya dipanggil.

Namun Nabi menolak, “Tidak. Saya tidak ingin orang Arab mengatakan, Muhammad berperang dengan kaumnya. Sampai ketika Allah telah membeberkan mereka. Dia sendiri yang akan menghadapi dan membunuh mereka.”

Sejak itu, Hudzaifah mendapat julukan “Pemegang Rahasia Nabi”. Misteri keduabelas orang penyerang itu tidak pernah terungkap. Identitas mereka berada dalam rahasia yang rapat, dijaga Hudzaifah hingga wafat. (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: