Sabtu, 15 Mei 2021

Lahan Resapan Kerontang, Banjir Menerjang

Lahan KBU yang tandus pada musim kemarau, di Kampung Pasanggrahan, Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Foto: Dok. apakabar.news, Oktober 2019,

HUJAN lebat yang turun pada Minggu (25/10/2020) menyebabkan banjir di banyak tempat di wilayah Jawa Barat, termasuk di Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi). Lebih khusus lagi, di kota metropolitan Bandung, kota besar dan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Segera saja ruas-ruas jalan ditumpahi air.  Sementara itu aliran sungai berwarna coklat menggelegak, penuh sampah, dan menakutkan.

Hampir setiap banjir melanda Kota Bandung, banyak pihak menoleh kembali ke kawasan Bandung utara (KBU). Sebuah dataran tinggi yang berada di utara Bandung Raya. KBU memiliki luas 39.304 hektare yang memanjang dari barat ke timur. Menurut data di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Jabar, dari kawasan seluas itu lebih dari 18 ribu hektar saat ini dalam kondisi kritis.

Sejatinya, KBU adalah daerah tangkapan air bagi daerah cekungan Bandung.  Fungsinya untuk menahan lajur air ke hilir dengan cara diresap melalui tanaman keras. Namun karena kondisi lahan tidak lagi ideal, tidak bisa berfungsi dengan baik. Air sungai yang membuncah dengan warna coklat pekat, menunjukkan kadar lumpur yang tinggi hasil gerusan.

“Bila hujan turun, air tidak keburu meresap, karena tidak ada tanaman keras. Air hujan langsung ke hilir menjadi banjir, runoff. Koefisien runoff sekarang lebih dari 75%. Jika ada tanaman keras atau hutan koefisien runoff hanya 30%,” kata Supardiyono Sobirin dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), saat berbincang  dengan apakabar.news belum lama ini.

Dua bencana alam yang berdekatan waktunya, yaitu banjir bandang yang melanda kawasan Cicaheum Kota Bandung pada 2018 dan Cilengkrang Kab. Bandung pada 2019, salah satu penyebabnya adalah rusaknya daerah resapan air di KBU. Alih fungsi lahan menjadi ladang sayuran dan maraknya permukiman penduduk, memberi kontribusi besar memburuknya KBU.

Sobirin mengaku heran. Meskipun sudah ada peringatan alam terbaru berkaitan rusaknya KBU, hingga kini belum ada gerakan terobosan untuk memperbaiki lingkungan di kawasan tersebut. Padahal antisipasi bencana itu membutuhkan kebijakan yang jelas dari pemerintah. Di tataran praktik, tidak bisa dilakukan hanya sekali dua kali tindakan. Dibutuhkan sikap yang konsisten dan berkesinambungan.

Keindahan yang mengancam

Sebuah dramatis dokumentasi apakabar.news setahun lalu, menggambarkan perbukitan di kawasan Cimenyan Kabupaten Bandung yang telanjang dan gersang tanpa pepohonan hijau. Tidak ubahnya seperti padang pasir. Sementara jauh di bawah perbukitan tersebut terhampar pemukiman yang dihuni warga Kota Bandung.  Ada kengerian melihat pemandangan tidak indah di musim kemarau itu.

Memang jika musim tanam tiba, wajahnya jadi berubah. Perbukitan di kawasan Bandung utara (KBU) itu terlihat indah dan mempesona. Dari kejauhan, bukit-bukit itu memanjakan mata. Berwarna-warni seperti diselimuti permandani dari Persia. Ladang pertanian tersebut dipenuhi berbagai jenis sayuran seperti bawang merah, kentang, kol, mentimun dan sejenis itu.

Namun demikian tetap saja menyimpan bahaya yang berpotensi mendatangkan bencana dahsyat bagi lingkungan. Teori sederhananya, perbukitan yang ditanami sayuran menjadikan tanahnnya tidak kokoh, rapuh mudah diseret air. Bila hujan turun, air tidak meresap karena tidak ada tanaman keras yang menahannya. Dengan mudah air berlari kencang ke arah bawah.

Akan tetapi, aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan bukanlah satu-satunya penyebab penting. Satu lagi pemicu kerusakan KBU adalah alih fungsi lahan menjadi pemukiman penduduk. Lebih khusus lagi maraknya pembangunan kompleks perumahan dan sejenisnya. Sebagian lahan KBU tidak lagi mampu menjalankan fungsi sebagaimana seharusnya.

Pemprov Jabar sebagai institusi yang memiliki tanggung jawab dan kewenangan atas KBU, memang tidak tinggal diam. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memimpin penanaman 17.000 pohon di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung, pada akhir tahun 2019. Kegiatan tersebut merupakan bagian dan awal dari rencana penanaman 25 juta pohon pada lahann kritis di Jawa Barat.

Tentang pemilihan lokasi di Cimenyan, Ridwan Kamil beralasan, masyarakat saat ini menganggap alam hanya supporting system yang bisa dirusak hanya untuk eksistensi manusia. Dia mengaku miris melihat area bukit Cimenyan yang gersang dan minim pohon besar. Karena itu, dia meminta pemerintah wilayah untuk selalu mengingatkan warga agar menanam pohon  bisa mengikat air.

Sudah hampir setahun berjalan, belum ada lagi gebrakan penanaman pohon secara massal di lahan kritis KBU. Padahal pernah direncanakan, pada awal tahun 2020 penanaman 25 juta pohon di lahan kritis akan dilakukan secara bertahap. Akan tetapi sekarang sudah memasuki akhir tahun 2020, belum ada lagi kegiatan penanaman massal. Mungkin terhambat karena wabah corona, bibitnya belum tersedia, atau banyak kesibukan lain? (Enton Supriyatna Sind)***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: